Kaum Injili

Kaum Injili

Label “Injili” (Evangelical) sering digunakan di kalangan orang-orang Kristen, entah sebagai sebuah penanda identitas yang membanggakan atau sebagai olokan dari orang-orang yang membencinya. Di kalangan orang-orang Kristen Indonesia, makna label ini sering disalahpahami. Beberapa orang berasumsi bahwa label “Injili” pasti berhubungan dengan Reformed Protestan. Beberapa orang lagi mengikuti tren di Amerika Serikat yang menganggap bahwa label “Injili” merupakan sinonim dari kata “konservatif” atau “tradisional.”

Kata “Injili” (Evangelical) secara literal memang berarti “berdasarkan injil” (of the gospel/evangelion). Dengan pengertian literal seperti ini, kata ini sudah dipakai sejak zaman Reformasi di abad 16, sebagai label untuk orang-orang Protestan karena mereka mengaku hidup berdasarkan injil. Meski demikian, label “Injili” yang kita pakai sekarang memiliki makna yang agak berbeda dibandingkan makna “Injili” di zaman Reformasi. Label “Injili” sekarang mengacu pada sebuah gerakan; yaitu, gerakan Injili (Evangelical movement). Maka dari itu, kita juga sering mendengar dalam Bahasa Inggris kata “Evangelicalism.” Di dalam Bahasa Jerman pun, mereka juga sudah mulai membedakan kata Evangelisch, yang berarti Protestan, dengan Evangelikal, yang berarti Injili.

Menjelajahi Sejarah Gerakan Injili

Untuk memahami pentingnya gerakan Injili, kita harus melihat dunia kekristenan di Eropa dan Amerika sebelum gerakan ini muncul. Kita semua tahu bahwa Martin Luther menyalakan api Reformasi pada tahun 1517. Sejak saat itu, muncul denominasi-denominasi gereja yang terlepas dari Gereja Katolik Roma. Di Jerman, gereja-gereja Lutheran mulai bermunculan. Di Swiss, gereja-gereja yang saat ini kita panggil Reformed mulai berkuasa. Di Inggris, Gereja Anglikan muncul. Di Skotlandia, gereja Presbiterian Reformed lahir. Selain itu, mulai muncul pula beberapa aliran-aliran lepas seperti Anabaptis.

Sayangnya, pada abad 17, denominasi-denominasi Protestan ini mulai berkonflik satu sama lain, khususnya dalam bidang politik. Pada saat itu, tidak ada konsep tentang iman individu. Untuk memastikan kesatuan politik, iman yang benar harus menjadi iman seluruh negara/kerajaan (state church). Karena garis antara politik dengan agama tidaklah jelas, seringkali mereka tidak bisa membedakan antara perang karena konflik politik atau karena konflik agama. Pada tahun 1618–1648, terjadi perang di seluruh Eropa yang bernama Thirty Years War (Perang Tiga Puluh Tahun). Di dalam peperangan ini, negara-negara Reformed, Lutheran, dan Katolik berperang melawan satu sama lain. Berhubungan dengan Perang Tiga Puluh Tahun ini, juga muncul peperangan sipil di Britania Raya pada tahun 1642–1651 antara anggota-anggota Parlemen yang Reformed dan pembela Raja Inggris yang lebih Katolik.

Thirty Years War

Pada saat itu, beberapa orang Protestan mulai menyadari bahwa sekedar pemahaman doktrin saja tidak dapat merubah hidup manusia. Ini disadari khususnya oleh orang-orang Moravian. Gereja Moravian saat itu berada di Jerman, dan terletak di tengah-tengah medan peperangan Thirty Years War. Orang-orang Moravian benar-benar menyadari bahwa orang-orang yang mengaku diri mereka Lutheran atau Reformed tetap tidak menunjukkan perubahan di dalam hidup mereka. Mereka tetap sadis, saling membenci, dan munafik. Karena itu, orang-orang Moravian ini mulai mengkhotbahkan tentang kelahiran baru, perubahan hidup karena iman, dan kesalehan personal (bukan hanya iman secara komunitas).

John dan Charles Wesley

Sekitar 100 tahun kemudian, pengajaran-pengajaran Moravian mulai berbuah di dalam figure-figur yang berbeda di saat yang sama. Di kalangan gereja Anglikan, 3 orang secara khusus perlu kita sorot;, yaitu John Wesley, Charles Wesley, dan George Whitefield. John Wesley bertemu orang-orang Moravian dan diubahkan karenanya. Sejak saat itu, dia berkhotbah di jalanan-jalanan di luar gereja, suatu hal yang kontroversial karena itu berarti khotbahnya tidak bisa dikontrol oleh gereja. Charles Wesley juga bertobat pada waktu yang hampir sama dan mulai menulis lagu-lagu rohani kontemporer, suatu praktik yang kontroversial karena pada saat itu gereja-gereja hanya menyanyikan kitab Mazmur. George Whitefield juga bertobat pada saat yang sama dan mulai berkhotbah dengan gaya-gaya teatrikal. Hal ini juga kontroversial karena pada saat itu khotbah adalah suatu aktivitas yang dianggap serius dan khidmat, bukan dilakukan secara dramatis dan teatrikal. Semua pengkhotbah ini membawa pesan yang sama: keselamatan hanya melalui iman kepada Kristus, dan bukan melalui institusi gereja atau negara (state church). Mereka selalu mengundang para pendengar untuk memberikan respons personal.

Jonathan Edwards

Di sekitar waktu yang sama, suatu kejadian menakjubkan terjadi di Amerika. Seorang pastor Konggregasionalis bernama Jonathan Edwards menghasilkan kebangkitan rohani yang luar biasa. Orang-orang di kota tersebut bertobat dan memberikan respons iman secara personal. Pada tahun 1740, Edwards mengundang George Whitefield untuk datang dan melakukan tour khotbah. Kerjasama antara 2 figur ini menghasilkan suatu kejadian yang begitu besar yang kita sekarang beri nama The First Great Awakening (kebangkitan rohani besar pertama). Banyak orang bertobat. Orang-orang yang dulunya mengaku diri Kristen tapi memiliki iman yang nominal (‘abangan’) sekarang memberikan respons iman secara pribadi. Aktivitas gereja yang dulunya hanya pada hari Minggu sekarang mulai menjadi lebih intensif. Persekutuan-persekutuan doa diadakan, sekolah Minggu pertama muncul, persekutuan-persekutuan pemuda pun menjadi digandrungi. Meski demikian, kejadian ini juga bersifat kontroversial. Di tengah-tengah First Great Awakening, orang-orang yang mendengarkan khotbah berespons dengan ekstrim. Ada beberapa yang menangis, berteriak-teriak, pingsan, menggonggong, atau lompat-lompat.

Banyak pendeta dan pengkhotbah akhirnya bergabung dengan gerakan ini, mulai dari pendeta-pendeta Presbiterian, Konggregasionalis, Baptis, dsb. Namun, tidak sedikit juga pendeta-pendeta yang mengecamnya sebagai pekerjaan Setan. Salah satu pendeta yang anti gerakan ini adalah Charles Chauncy, seorang pendeta Puritan, Protestan, dan Reformed. Jonathan Edwards (dan nantinya George Whitefield dan John Wesley, di antara yang lain) membela gerakan ini sebagai pekerjaan Roh Kudus karena, bagi dia, iman yang hanya ada di otak bukanlah iman yang sejati. Mengucapkan rumus pengakuan iman tidaklah cukup. Iman yang sejati harus menyentuh hati pribadi dan memberikan hasrat (passion) bagi perubahan hidup dan penginjilan.

Kata “Evangelical” (Injili) pertama kali digunakan pada abad 18 dalam konteks Great Awakening ini sebagai label untuk gerakan yang baru muncul ini.

John Newton

Di tahun-tahun setelah kelahirannya, gerakan ini mulai menyebar luas. Orang-orang seperti John Wesley dan George Whitefield menyebarkan gerakan ini melalui khotbah-khotbah mereka. Orang-orang seperti Edwards menyebarkan gerakan ini melalui tulisan-tulisan teologisnya yang membela gerakan Injili. Orang-orang seperti Charles Wesley dan John Newton menyebarkan gerakan ini melalui lagu-lagu kontemporer yang menyentuh hati (seperti Amazing Grace). Nantinya, orang-orang seperti William Wilberforce menyebarkan gerakan ini melalui perubahan-perubahan yang mereka bawa di meja politik. Di akhir abad 19 dan awal abad 20, gerakan Injili ini menghasilkan 2 anak yang berangkat dari prinsip-prinsip yang sama: gerakan Fundamentalis dan gerakan Pantekosta. Lama kelamaan, beberapa orang di denominasi-denominasi yang tradisional pun bergabung ke dalam gerakan Injili (seperti beberapa orang Katolik, beberapa gereja Lutheran, dsb.).

Mengejar Sebuah Definisi

Mengenal suatu gerakan melalui cerita dibaliknya dapat membuat kita lebih mengenal pergerakan tersebut dibanding dengan sebuah definisi konkrit. Namun, jika gerakan Injili ini harus didefinisikan, kira-kira bagaimana definisinya? Kita akan akhiri artikel ini dengan melihat 2 definisi yang saya rasa cukup bagus.

Sejarawan David Bebbington menawarkan 4 karakter gerakan Injili:

  1. Conversionism (pentingnya pertobatan pribadi dan kelahiran baru), 
  2. Activism (pentingnya keaktifan penginjilan bukan hanya oleh pengkhotbah tetapi juga oleh tiap-tiap orang Kristen),
  3. Biblicism (pentingnya Alkitab sebagai firman Allah), dan
  4. Crucicentrism (pentingnya salib Kristus sebagai jalan satu-satunya untuk keselamatan).

Definisi kesukaan saya diungkapkan oleh sejarawan Douglas Sweeney sebagai berikut: Gerakan Injili adalah sebuah gerakan yang berakar pada kekristenan klasik dan ortodoks, dibentuk oleh pemahaman Protestan tentang injil, dan memiliki karakter-karakter abad 18 (seperti individualis, pentingnya hati, dramatis, dsb.). Jadi, gerakan Injili mengasumsikan formulasi iman ortodoks (seperti doktrin Trinitas dan keilahian Yesus) dan iman Protestan (seperti keselamatan melalui iman) tetapi juga memiliki karakter-karakter modern.

Karena Injili adalah suatu gerakan, Injili bukan merupakan sebuah denominasi. Sejak kelahirannya, gerakan Injili merupakan gerakan persatuan orang-orang Protestan yang peduli terhadap aplikasi injil ke hati individu; mulai dari Methodis, Anglikan, Presbiterian, Baptis, Konggregasionalis, dan Moravian.

Jadi, label “Injili” bukan berarti “konservatif.” Di abad 18, gerakan Injili merupakan gerakan yang progresif dan ditentang oleh banyak orang. Harus diakui gerakan Injili memang menekankan pentingnya Alkitab, dan ini dianggap konservatif oleh banyak orang di abad 21. Label “Injili” juga bukan berarti “Reformed.” Banyak orang yang masuk ke gerakan ini adalah orang-orang Lutheran atau Arminian. Label “Injili” juga bukan berarti “non-Karismatik.” Gerakan Karismatik dan Pantekosta justru bermula dari gerakan Injili yang menekankan lahir baru, pengalaman-pengalaman spiritual subyektif, dan pekerjaan Roh Kudus di hati individu. Terakhir, label “Injili” juga bukan berarti “Protestan.” Memang, gerakan Injili muncul dari Protestan, tapi banyak orang Protestan yang menentang gerakan Injili sejak tahun-tahun awal kelahirannya

doktrin