Tuhan Maha Pengampun

Tuhan Maha Pengampun

Yunus  4:1-3

1 Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.

2 Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.

3 Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.”

Ada sesuatu yang aneh setelah kita baca ketiga ayat ini.

Kalau kita baca ayat 2 di atas dengan seksama – Yunus tahu bahwa ALLAH kita adalah ALLAH yang penuh dengan kasih dan sayang. ALLAH kita itu panjang sabar dan berlimpah kasih setia-NYA, juga “menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-NYA”

Kutipan yang terakhir perlu saya perbaiki. TUHAN kita tidak pernah membuat keputusan secara gegabah – IA tidak pernah menyesali keputusan yang telah dibuat. Oleh karena itu saat saya baca versi NIV dari ayat Yun 4:2 ini – saya dapati kata “relents”.

JONAH 4:2He prayed to the LORD, “O LORD, is this not what I said when I was still at home? That is why I was so quick to flee to Tarshish. I knew that you are a gracious and compassionate God, slow to anger and abounding in love, a God who relents from sending calamity.
Yang artinya Yunus berdoa kepada TUHAN, “Ya TUHAN, bukankah ini yang telah kukatakan kepada-Mu ketika aku masih di rumahku? Oleh karena inilah aku begitu cepat melarikan diri ke Tarsis. Aku sudah tahu bahwa Engkau adalah ALLAH yang mengampuni dan penyayang, lambat marah dan berlimpah dalam kasih, ALLAH yang membatalkan / mencabut putusan / memikirkan kembali untuk mengirimkan bencana kehancuran.
Kata “Relents” ini sinonim dengan mencabut, memikirkan kembali, membatalkan. Bukan berarti menyesal.
Jadi yang sebenarnya terjadi adalah inilah bukti bahwa TUHAN kita itu sebenarnya tidak pernah mau menghukum manusia. Setiap kali manusia berbuat keji di hadapan TUHAN, berbuat hal-hal yang mendukakan TUHAN – TUHAN akan berusaha untuk memperingatkan kita untuk kembali kepada jalan-NYA, supaya TUHAN tidak perlu menghukum manusia atas perbuatan mereka.
Jadi TUHAN kita itu selain sungguh mengasihi kita, TUHAN kita juga tegas terhadap yang berbuat dosa. BAPA di surga sungguh adalah ALLAH yang maha ADIL. IA memberikan kesempatan kepada kita manusia untuk bertobat sebelum hukuman itu dijatuhkan.
Yang terjadi pada kota Niniwe ini adalah mereka sadar dan mereka adalah orang-orang yang percaya kepada ALLAH dan perbuatan mereka telah mengetuk hati TUHAN yang sebenarnya tidak mau menghukum kota Niniwe. Oleh karena itu TUHAN membatalkan / mencabut hukuman atas kota tersebut. Jadi TUHAN kita tidak pernah menyesal atas keputusan yang telah dibuat-NYA, tapi IA bisa saja membatalkan / mencabut hukuman atas kita – asalkan kita bertobat, mengakui dosa kita dan mau kembali kepada jalan-NYA.
Kembali ke pertanyaan mengapa Yunus marah
Mengapa Yunus marah sampai ia minta kepada TUHAN untuk mencabut nyawanya?
Mengapa Yunus menghindari perintah TUHAN untuk memberitakan firman-NYA di kota Niniwe?
Saat saya baca kitab Yunus ini dari pasal 4 – lalu saya baca ulang dari pasal pertama. Saya tidak berhasil menemukan mengapa Yunus melarikan diri dari tugas yang diperintahkan TUHAN. Saya juga tidak menemukan mengapa Yunus begitu kesal kepada tugas yang diberikan kepadanya, sehingga Yunus minta kepada TUHAN untuk mencabut nyawanya.
Akhirnya saya cari komentar-komentar para ahli yang mempelajari kitab Yunus ini dan dituliskan bahwa Yunus adalah orang Israel. Warga Niniwe bukan bangsa Israel. Yunus adalah salah satu dari bangsa Israel yang masih menganggap bahwa keselamatan adalah milik bangsa Israel saja dan bukan untuk bangsa-bangsa lain di dunia.
Inilah yang menyebabkan Yunus begitu kesal dan marah, sampai-sampai ia minta kepada TUHAN untuk mencabut nyawanya.
Yunus kesal dan marah akibat arogansi yang ada dalam dirinya karena ia seorang bangsa Israel, sebuah bangsa yang merupakan pilihan TUHAN. Ia melarikan diri dari tugas yang diberikan kepadanya, karena ia tidak ingin ada bangsa lain yang diselamatkan dan dikasihi oleh TUHAN.
Dengan kesombongan dan dengan keyakinan yang berlebih bahwa Yunus pasti masuk surga; Yunus minta kepada TUHAN untuk mencabut nyawanya, karena Yunus tahu “hidup adalah milik TUHAN“. Yunus sangat tahu, bunuh diri merupakan dosa besar dan ia akan menerima hukuman kekal di neraka jika melakukannya.
Yunus di masa kini melambangkan orang Kristen yang telah menerima keselamatan, orang Kristen yang mengenal dan belajar firman. Akan tetapi, kabar keselamatan ini disimpan sendiri. Orang Kristen yang macam ini tidak mau berbagi apa yang ia tahu akan firman TUHAN. Orang ini lebih senang ngurusi dirinya sendiri, tanpa memperdulikan keselamatan orang-orang di sekitarnya. Sungguh orang semacam ini telah berdosa kepada TUHAN tanpa ia sadari.
Ia tidak menyadari bahwa setiap orang yang telah terbebas dari dosa di masa sekarang adalah orang-orang Kristen perjanjian baru. Kita dibebaskan oleh darah YESUS, kita telah ditebus oleh darah-NYA; Darah YESUS adalah Darah Perjanjian yang mengikat kita semua yang terima penebusan ini. Melalui perjannjian ini kita mempunyai tugas dan kewajiban untuk mengabarkan injil keselamatan yaitu injil YESUS KRISTUS.
Dan Yunus telah berdosa karena telah berusaha mengatur TUHAN dengan meminta TUHAN untuk mencabut nyawanya.
YUN 4:4
Tetapi firman TUHAN: “Layakkah engkau marah?”
Lalu TUHAN menegur Yunus yang sedang marah pada ayat 4 ini dengan berkata “Layakkah engkau marah?“
Sebuah pertanyaan yang sifatnya agar Yunus untuk instropeksi diri, agar Yunus bertanya kepada dirinya sendiri “apakah pantas Yunus marah karena kasih TUHAN atas kota Niniwe?”
Apakah kita patut mempertanyakan kasih TUHAN?
Apakah kita patut memberi tahu TUHAN siapa yang layak untuk menerima kasih dan sayang-NYA?
Apakah kita lebih tahu daripada TUHAN?
____________________________________

Renungan